I Always Break the Rules

I always break the rules. Perasaan ini galau atau gemes, saya sendiri juga nggak tahu. Intinya masih sama, saya resah dengan pendidikan kita saat ini. Atau saya resah sama diri sendiri ya? Sejak tahun 2007 sampai sekarang masih sama, malah semakin mantap.

Sumpah saya beberapa bulan ini males ngomongin pendidikan kita, pokoknya baru males aja, yang dibahas itu itu saja, kalau saya nulis sesuatu di sebuah grup guru, biasanya akan saya tinggal begitu saja, saya males baca komentar dibawahnya, daripada ilfill mending nggak deh.

i always break the rules
I always break the rules

Tapi, gara gara baca artikel pak Rhenald juga buku 30 paspor, juga diskusi sedikit sama Irma kemarin, kayak ada yang narik, “heeey jalurmu udah bener terusin aja”. Apalagi pak Rhenald yang Professor saja juga mengalami hal yang sama seperti saya, dikucilkan dan dimarah sana sini.

Saya guru yang tidak bisa memaksakan materi yang saya ajarkan dikuasai murid murid saya. Sekarang bayangkan saja, gimana bisa saya ngajar, jika pikiran anak anak di kelas baru kalut karena akan menghadapi ujian pertama mereka dengan guru yang galak. Mereka takut salah, takut dimarah dan takut nilainya jelek.

Gimana saya bisa ngajar, jika anak anak baru kalut karena tugas setumpuk, yang harus selesai hari itu. Gimana saya bisa ngajar, jika anak anak kelaparan karena nggak sempet sarapan dari rumah.

Suasana seperti itu biasanya akan saya beri waktu mereka full di jam pelajaran saya, saya akan terima berbagai keluh kesah dan curhatan mereka, saya berusaha membesarkan hati mereka dan menguatkan mereka, demikian pula mereka bisa mengikuti pelajaran saya dengan makan pagi dulu di kelas.

I always break the rules!

Saya pernah juga berpikir gimana jika suatu saat pengawas tiba tiba masuk kelas, dan melihat bahwa saya mengajar tidak sesuai silabus dan RPP. Itulah mengapa kadang saya berpikir, saya nih pantes nggak sih jadi guru?

Tapi di sisi yang lain, saya juga dihadapkan pada kenyataan bahwa, anak anak itu memang harus ditempa menghadapi berbagai kesulitan dan kita tidak boleh dengan mudah membantu dan melindungi mereka, nanti mereka jadi manja dan tidak mandiri. Oke tapi dilihat dulu konteksnya.Worth it nggak?

Jika mereka dimarah dan dipermalukan cuma gara gara sepatu atau ikat pinggang, ya percuma – bisa nggak kasih alasan masuk akal kenapa semua itu harus seragam? Penting gak sih? Tapi saat mereka curang, mencontek, buang sampah sembarangan, didiemin aja, gak ada solusi yang berarti untuk membuat mereka tidak mencontek atau merubah kebiasaan mereka untuk tidak buang sampah sembarangan?

Kebetulan materi saya di kelas X usia 14-15 tahun adalah otoritas jasa keuangan, saya minta mereka di 3 jam pelajaran hanya mencari tiga hal, sejarah OJK atau apa yang melatar belakangi pemerintah mendirikan OJK, kemudian tujuan dan tugas OJK. Mereka boleh mencari jawabannya dimanapun dengan cara apapun. Minggu berikutnya berdasarkan apa yang mereka temukan saya minta mereka untuk mengatakan kembali dengan kata kata mereka sendiri artikel berita tentang OJK yang saya ambil dari internet. Cuma retell doang pake kata kata mereka sendiri, terus apa yang mereka tuliskan berdasarkan artikel tersebut secara bergiliran dibaca oleh teman yang lain.

Tahu nggak sih setelahnya kok malah kita diskusi seru tentang berbagai macam investasi dan rencana mereka saat tabungan mereka sudah terkumpul nanti? Oh ya anak anak ini sejak awal tahun pelajaran sudah nabung pakai sistem my money trip.

Tahu nggak sih siapa yang nggak haru mereka mulai mau merencanakan perjalanan uang mereka? Apa investasi mereka dan apa usaha mereka nanti? Rinci lho sampai tahun dan umur mereka juga tertera disana. Satu hal yang tidak pernah kepikir sama saya pas SMA dulu, ngerti juga nggak.

Kalau seperti ini mereka akan melakukannya dengan rela hati, karena mereka tahu itu worth it buat mereka, mereka nggak akan lagi melakukannya karena nilai semata. Saya juga nggak perlu mengancam mereka menakut nakuti dengan nilai raport de el el.

Demikian pula dengan materi pelajaran saya yang lain, saya membuat mereka memahami manfaat dari apa apa yang mereka pelajari kelak, walau ada sih yang tetep susah karena terlalu abstrak.

Itulah kelemahan saya. Saya tidak bisa memaksa anak selalu on mengikuti pelajaran saya, pun setelah saya jelaskan manfaatnya, jika ada tugas saya akan memberi kebebasan buat mereka untuk memutuskan untuk mengerjakan atau tidak, nggak, juga nggak apa banget. Saya mau semua yang mereka pelajari worth it dan motivasi mereka memang untuk tahu ilmunya bukan nilai. Saya mau mereka tahu, saya menghargai apapun keputusan mereka. Saya mau mereka belajar gagal, dan salah dari situ.

Demikian pula dengan soal ujian tengah semester, saya ingin mereka beropini, soal saya cuma tiga artikel pendek pendek sesuai dengan materi yang saya ajarkan, kemudian saya minta mereka beropini tentang permasalahan yang ada di artikel tersebut dengan kenyataan yang mereka hadapi. Mereka sih seneng seneng saja walau sulit karena ini pertama kali mereka dapat soal yang membuat mereka sungguhan berpikir, nggak ngapal dan yang pasti nggak mungkin mencontek, kan?

Semua yang saya lakukan di kelas nggak sesuai dengan aturan silabus, juga aturan pembuatan soal, karena soal UTS harus 10 soal essay, sehingga nggak bisa dipakai untuk isi form analisis soal. Gitu deh, karena kalau saya sesuai aturan, nggak sesuai dengan hati nurani, gimana dong?

Kalau saya dipecat, padahal saya cinta banget jadi guru 🙁

ameliasari-01

Tulisan: Ameliasari Kesuma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *