Bagaimana Bisa Anak Menjadi Cerdas

Bagaimana bisa anak menjadi cerdas. Inti dari keduabelas ciri kecerdasan di atas ialah “energi yang berlimpah”, dalam jiwa, perasaan, pikiran, dan dalam tubuh fisik. Energi yang berlimpah dalam jiwa membuat seorang anak suka mempertanyakan otoritas dan tampak lebih matang daripada usianya. Mempertanyakan otoritas merupakan bentuk dari kekuatan energi jiwa atau kemauan anak untuk membentuk pandangan-pandangannya sendiri.

Mempertanyakan otoritas ini berbeda sama sekali dengan sikap ngeyel atau tidak mau percaya kepada orang lain. Sikap mempertanyakan otoritas lebih merupakan ekspresi dari kehati-hatian dalam meletakkan kepercayaan kepada pendapat orang lain. Sikap ini merupakan titik tengah antara sikap terlalu mudah percaya kepada orang lain dan sikap tidak percaya kepada siapa pun. Dalam diri anak usia prasekolah, sikap ini biasanya tampak dalam ekspresi wajah anak yang ragu-ragu ketika diajak atau diberitahu tentang suatu hal.

Energi berlimpah dalam jiwa juga membuat anak tampak lebih matang daripada usianya. Yang dimaksud tampak lebih matang di sini ialah kemampuan untuk mengendalikan dorongan-dorongan impulsif dalam dirinya. Pada anak kecil, kemampuan ini misalnya terlihat dalam kemampuan anak untuk menjaga sikap ketika ada tamu.

Energi yang berlimpah membuat seorang anak memiliki perasaan yang peka dan mampu menunjukkan rasa kasih sayang kepada orang lain atau binatang. Kedua perasaan ini saling berhubungan satu sama lain. Perasaan yang peka harus dibedakan dengan sikap manja atau cengeng.

Sikap manja atau cengeng bukan bersumber pada perasaan, melainkan lebih kepada kemalasan untuk mandiri dan ketidakpedulian bahwa sikapnya merepotkan orang lain. Dengan kata lain, sikap manja atau cengeng menunjukkan ketiadaan empati. Sementara perasaan yang peka merupakan nama lain dari kekuatan empati. Empati adalah kemampuan untuk memahami orang lain dari sudut pandang orang lain itu sendiri. Empati adalah kemampuan untuk turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Energi yang berlimpah dalam pikiran membuat seorang anak selalu punya rasa ingin tahu yang besar secara intelektual, suka tantangan, dan mencoba-coba cara baru. Hal ini tidak sulit ditemukan ekspresinya dalam diri anak-anak usia prasekolah. Energi yang berlimpah dalam pikiran ini biasanya berkombinasi dengan energi yang berlimpah dalam beraktivitas. Hal inilah yang sungguh melelahkan bagi orang-orang dewasa yang tidak mengenal dunia anak-anak. Energi berlimpah inilah yang membuat anak-anak seperti tampak tidak pernah lelah meski bermain seharian.

Berdasarkan konsep energi berlimpah ini, sesungguhnya setiap anak terlahir dengan kapasitas kecerdasan tertentu. Itulah sebabnya, pada tiga tahun pertama usianya, anak mengalami peningkatan yang sangat hebat dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan di dalam dirinya. Dari tidak bisa berjalan menjadi bisa berjalan, dari tidak bisa berkata-kata menjadi bisa berkata-kata, atau dari tidak mengerti makna kata menjadi mengerti makna kata-kata.

Mungkin bagi banyak orangtua, hal itu dipandang sebagai suatu kewajaran. ”Semua anak juga begitu!” Padahal, sesungguhnya jika orangtua mau merenungkan, hal itu merupakan sesuatu yang luar biasa. Bagaimana bisa bayi yang tidak berdaya mengembangkan semua kemampuannya itu dalam waktu singkat? Bagaimana mungkin otot-otot yang tidak berdaya itu bisa memiliki kemampuan menopang tubuh, kemudian berjalan dan berlari dengan begitu lincah? Bagaimana bisa otak mengorganisir kerja dari sekian banyak otot sehingga mampu melakukan hal-hal yang lebih kompleks daripada yang bisa dilakukan saat masih bayi? Apa yang terjadi pada otak anak? Dari mana asalnya peningkatan kemampuan otak anak itu?

Jawabnya ialah karena Allah telah menganugerahi anak kekuatan energi berlimpah yang memungkinkan otak anak sangat perseptif terhadap stimulus-stimulus energi berlimpah. Itulah rahasianya.

Energi berlimpah dapat digambarkan sebagai “kekuatan sebenarnya” dari otak manusia. Pada tahun 1974, Peter Anokhin, ilmuwan otak terkenal berkebangsaan Rusia, menghitung kepandaian manusia berdasarkan kemampuan pembuatan pola atau tingkat kebebasan pikiran di seluruh otak seorang manusia.

Begitu besarnya sehingga jika ditulis dalam ukuran karakter teks normal akan membentuk deretan angka satu dengan diikuti angka nol sebanyak 5.040 milyar! (1 x 105.040.000.000.000). Tidak ada seorang pun yang mampu menggunakan otak secara maksimal. Tidak ada pembatasan kekuatan otak manusia, kekuatan ini tidak terbatas.”

Betapa besar dan berlimpahnya energi yang tersimpan dalam otak anak-anak kita! Apakah energi berlimpah ini dapat susut seiring bertambahnya usia? Sekali lagi, bab-bab berikutnya dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Ref: Amanah Foundation – Probolinggo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *