Bahasa daerah atau bahasa ibu diusulkan menjadi bahasa pengantar di sekolah dasar

Bahasa daerah atau bahasa ibu diusulkan menjadi bahasa pengantar di sekolah dasar sekurang-kurangnya hingga kelas III sekolah dasar, sedangkan bahasa Indonesia baru dipakai mulai kelas IV sekolah dasar. Dengan demikian, ingatan anak pada bahasa ibu diharapkan telah melekat kuat sebelum belajar bahasa Indonesia lebih mendalam.
Bahasa daerah atau bahasa ibu diusulkan menjadi bahasa pengantar di sekolah dasar
Selamatkan Bahasa Daerah
Demikian salah satu gagasan yang dikemukakan sejumlah pembicara dan peserta Kongres Bahasa Daerah Nusantara, Rabu (3/8), di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat.
*
Guru Besar Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia Iskandarwassid mendukung pandangan agar bahasa daerah menjadi bahasa pengantar sampai kelas III SD.
*
Dukungan serupa datang dari peneliti spesialis pendidikan multibahasa Universitas Gloucestershire, Inggris, Alice Eastwood. Menurut dia, penggunaan bahasa daerah sebagai pengantar pernah dilakukan pada masa lalu.
*
Akan tetapi, Eastwood mengingatkan, tidak semua daerah bisa melakukan hal itu, terutama di kota-kota besar dengan bahasa tutur sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia. Menurut dia, penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar hanya bisa diterapkan di daerah yang bahasa tutur masyarakatnya homogen.
*
“Di TK dan SD di daerah terisolasi, sampai saat ini, bahasa daerah masih dipakai sebagai pengantar. Hal itu ditempuh bukan untuk melestarikan bahasa, tetapi agar anak bisa belajar dengan baik. Ini sesuatu yang berbeda,” tutur Eastwood, yang meneliti proses pendidikan di Papua.
*
Pada Selasa lalu, dalam Kongres Bahasa Daerah Nusantara, terungkap, dari 706 bahasa daerah di Indonesia, 266 bahasa berstatus lemah, 75 bahasa sekarat, dan 13 bahasa punah?.
*
Data lain menyebutkan, pada tahun 2014, terdapat 659 bahasa daerah di Indonesia yang merupakan hasil penelitian di 2.300-an titik/daerah (Kompas, 3/8).
*
Dasar cara berpikir
*
Menurut sastrawan dan penulis Abdullah Mustappa, sebaiknya setiap sekolah di daerah langsung menerapkan penggunaan bahasa daerah. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, misalnya, hal itu bisa segera diwujudkan.
*
“Kalau bicara kurikulum, malah jadi ribet. Lebih baik dimulai saja. Di Indramayu, bisa dimulai kalau semua pihak menghendakinya,” ujar Abdullah.
*
Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Yayat Sudaryat mengatakan, kepandaian dalam bahasa ibu sangat penting untuk proses belajar berikutnya. Bahasa pertama merupakan dasar cara berpikir seseorang.
*
Penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar di sekolah juga menjadi sarana pembentukan sikap percaya diri pada anak. “Anak merasa dihargai karena bahasa itu menjadi sarana sosialisasi budaya yang membentuk diri mereka,” ucap Yayat.
*
Menurut dia, bahasa daerah memiliki pula keragaman kosakata. Yayat mencontohkan bahasa Sunda yang begitu kaya karena memiliki 418 kecap anteuran atau kata pengantar yang tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lain.
*
Saat ini, saban Rabu, sekolah-sekolah di Bandung menggunakan bahasa Sunda, sedangkan di daerah lain bisa saban Selasa atau hari lain.
*
“Ternyata, bicara dengan bahasa pengantar Sunda itu asyik, mulai ketika anak masuk kelas hingga proses pembelajaran. Anak-anak juga merasa nyaman. Saya kira daerah lain dengan bahasa lain bisa menerapkannya,” tutur Yayat.
*
Menggunakan bahasa daerah atau bahasa ibu sebagai pengantar dalam proses belajar-mengajar juga merupakan satu upaya transfer budaya.
*
Ref: SekolahPermata.com | dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *