Sekolah Permata Probolinggo, Mendidik Selaras Fitrah

[1] Pertama, mengapa menemani bukan mengatur atau mengendalikan?
*
Ketahuilah bahwa prinsip pendidikan berbasis fitrah adalah berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Maka wajib hukumnya meyakini bahwa potensi potensi baik telah terinstal dalam diri anak anak kita sejak lahir bahkan sebelumnya.
*
Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.
*
Maka bekal pertama dan utama dalam mendidik bukanlah segepok kurikulum baku dan kaku, tetapi adalah keyakinan dan kebersyukuran, ketenangan dan keoptimisan bahwa setiap anak adalah memiliki potensi fitrah yang baik dan ditakdirkan menjadi baik. Hanya orangtua dan lingkungan yang gegabahlah yang banyak merusak dan merubah serta menyimpangkan fitrah anak anak kita.
SDIT Permata - Probolinggo, Jawa Timur
SDIT Permata – Probolinggo, Jawa Timur
*
[2] Kedua, mengapa membangkitkan dan menyadarkan bukan merekayasa dan mengajarkan?
*
Keyakinan dan kebersyukuran kita pada fitrah sebagaimana pada bagian pertama di atas, membuat kita menyadari bahwa mendidik bukan banyak menjejalkan, mengajarkan, mengisi dan sebagainya atau OutSide In. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri atau InsideOut.
*
Misalnya bagi kita, lebih penting membuat anak bergairah belajar dan bernalar daripada menguasai banyak pelajaran, lebih penting membuat mereka cinta alQuran dan buku daripada menggegas bisa membaca dan menghafalnya.
*
Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya, mendalami dan mengamalkan alQuran secara mandiri sepanjang hidupnya, mengembangkan bakat sampai menjadi peran secara mandiri sepanjang hidupnya.
*
Fitrah keimanan dibangkitkan bukan dengan menjejalkan pengetahuan agama tetapi dengan keteladanan dan atmosfir mencintai perbuatan shalih. Fitrah belajar dibangkitkan bukan dengan banyak mengajar tetapi dengan idea menantang dan inspirasi seru. Fitrah bakat dibangkitkan bukan dengan menstandarkan output dan cita cita tetapi memperbanyak wawasan dan aktifitas yang sesuai sifat dan keunikan anak anak kita. Semuanya akan indah jika tumbuh sesuai fitrahnya dan hadir pada saatnya.
*
Anak anak yang banyak diajarkan akan minta diajarkan terus sepanjang hidupnya, anak anak yang banyak didikte dan dikendalikan akan merepotkan orangtua dan sekitarnya sepanjang hidupnya, anak anak yang tidak menjadi dirinya karena obsesi orangtuanya akan tidak punya peran apapun sepanjang hidupnya.
*
[3] Ketiga, mengapa memanfaatkan momen lebih baik daripada mengatur secara sistematis?
*
Momen adalah bagian penting dari pendidikan fitrah karena semakin alamiah dan “seamless” (tidak nampak) maka semakin baik. Sesungguhnya Allah SWT lah pendidik terbaik manusia, Dengan karunia Allah SWT, setiap saat, setiap hari, kita ditakdirkan selalu menjumpai momen-momen seru dalam kehidupan yang kita bisa menggali hikmahnya bersama anak anak kita. Banyak momen “tak sengaja” kemudian jika diamati akan menjadi minat dan keseriusan anak.
*
Memanfaatkan momen, menggali hikmah yang banyak dari peristiwa keseharian dimana anak anak sangat “curious” akan memberikan kesan mendalam, menginspirasi ayat ayat Kitabullah yang relevan dan melahirkan idea seru menantang untuk didalami dan melahirkan karya manfaat di kemudian hari.
*
[4] Keempat, selain momen tentu kita boleh membuat program atau proyek yang dirancang bersama anak sesuai keunikan masing masing anak dan masing masing keluarga.
*
Ada kalanya kita memerlukan proses mendidik yang berbatas waktu, anggaran tertentu, scope tertentu dan lain-lain agar dapat dievaluasi segera baik portfolio karya, kinerja juga moral sekaligus menggali bakat serta minat anak.
Kita bisa merancang proyek dari yang paling sederhana misalnya proyek membersihkan kamar mandi, proyek go green di rumah, sampai kepada yang menengah dan rumit seperti proyek berkebun dan beternak, proyek fieldtrip ke luar kota, proyek dagang dan magang bersama maestro, proyek ekspedisi, proyek sosial dan lainnya.
*
Dengan begitu, anak anak akan terbuka wawasan dan kita bisa menempatkan anak pada jabatan di proyek sesuai bakat dan kemampuannya.
*
Klik Page 3 untuk melanjutkan.